Ad

4/7/12

Pengalaman (gagal) Mendaki Gunung Semeru

Pada tahun 2005, TV7 kembali mengadakan acara "Jejak Petualang" seri 2 dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 60. Aku bersama teman-teman pun berniat mengikuti kegiatan ini. Tapi sayang, saat mengambil formulir pendaftaran, kami tidak kebagian formulir yang terbatas jumlahnya itu. Tapi kami bertekad tetap mengikuti acara ini, walau tidak terdaftar sebagai peserta.

Tanggal 14 Agustus jam 9 malam th 2005 , kami 8 orang berangkat menuju Malang menggunakan mobil Daihatsu espass-ku. Aku sendiri yang membawa mobil itu. Kami melalui jalur Malang, karena kata temanku yang orang Nganjuk (dia sendiri tidak ikut karena pekerjaan tidak bisa ditinggal), lewat Malang katanya lebih dekat dan ada jalur ke Gunung Semeru. Maka kami melalui jalur ini, tidak mengikuti team "Jejak Petualang TV7" yang melalui jalur Lumajang.


Dari Jakarta kami melalui jalan utama menuju Semarang, belok ke selatan menuju Purwodadi, Sragen, Nganjuk, Kertosono. Mengikuti petunjuk teman yang dari Nganjuk, dari Kertosono kami mengambil jalan alternatif Ngoro, Kandangan, Batu, Malang. Setelah melewati Kandangan hari sudah mulai gelap. Jalanpun sudah mulai menanjak dan berkelok-kelok. Sampai di Batu kami melihat kota Malang jauh di bawah sana. Indah sekali pemandangan dari kota Batu ini. Setelah melewati jalan yang menurun, sampailah kami di kota Malang sekitar jam 11-an malam.

Sampai di Malang, kami tidak tahu harus menuju ke arah mana. Kami pun berhenti dekat prapatan lampu merah, dan bertanya pada beberapa orang di sana. Namun anehnya, beberapa orang yang kami tanya, tidak tahu jalan menuju Gunung Semeru. Kami pun mendatangi kantor Polisi, tapi pak polisi pun juga tidak tahu jalan ke sana. Aneh? pikir kami. Rata-rata mereka mengatakan harus ke Probolinggo atau Lumajang dahulu.

Aku pun memutuskan kalau harus ke Probolinggo besok saja, karena aku sudah mengendarai mobil 24 jam lebih! Lelah sekali! Teman-temanku sih enak, bisa tidur selama perjalanan. Aku pun tertidur beberapa saat di mobil, sementara teman-teman mencari info barangkali ada orang yang tahu jalan menuju Gunung Semeru. Setelah 1 jam-an, kebetulan sekali ada sorang ibu tukang sayur yang mau belanja ke pasar dan tahu jalan ke sana. Ke Tumpang dulu mas, kata si ibu sambil menunjuk jalan ke mana arah Tumpang itu. Lalu aku dibangunkan untuk melanjutkan perjalanan ke Tumpang. 

Sampai di Tumpang kami bertanya kembali. Kami pun mendapat petunjuk untuk berbelok di suatu pertigaan.  Setelah beberapa kilometer, kami menemui pos penjagaan, di mana setiap calon pendaki harus melapor dahulu di pos ini. Setelah melapor dan menunjukkan surat-surat  yang diperlukan, kami pun mendapatkan ijin. Tapi sayang, kata petugas tersebut kami tidak bisa menggunakan espass ku ini. Karena rutenya sangat berat dan ada 3 tanjakan berpasir! Harus pakai kendaraan 4wd, kata si petugas. Kendaraan jenis yang saya pakai itu belum pernah ada yang berhasil melalui jalur ini! Silakan saja kalau mau coba, katanya lagi. Mendingan naik jeep, ongkosnya cuma 30 ribu per orang (waktu itu), mobil dititipkan di pos, saran petugas.

Waduh.. sudah susah-susah mencari informasi menuju ke sini, ga bisa pula.. Piye iki rek..? Mau naik jeep, bekal ongkos yang kami bawa sangat ngepres sekali.

Daripada pusing-pusing, aku pun melanjutkan tidurku kembali. Sementara teman-teman memasak mie dan membuat kopi. Saat memasak mie itulah datang sebuah jeep yang membawa sekitar 7 orang calon pendaki. Jeep ini memang khusus disewakan di daerah Tumpang untuk orang-orang yang mau mendaki Gunung Semeru. Teman-temanku menawarkan kopi dan mie yang telah masak kepada supir jeep itu, sementara penumpangnya melapor ke pos penjagaan. Supir jeep itu menerima dengan senang hati mie dan kopinya.

Teman-temanpun mengobrol dengan supir jeep mengenai rute ke sana. Si supir mengatakan, kalau melewati jalan berbatu, mungkin mobilku bisa. Tapi kalau melewati tanjakan berpasir, dia yakin mobilku tidak bakal bisa. Lalu salah seorang temanku menawarkan negosiasi, bagaimana jika di tanjakan berpasir, mobil kami di derek pakai mobilnya dengan imbalan uang. Si supir pun menyetujuinya. Alhamdulillah.. ada jalan keluar juga..

Lalu aku dibangunkan kembali, supaya mengikuti jeep itu. Setelah minum kopi, aku melanjutkan perjalanan mengikuti jeep yang melaju dengan lincah di tengah malam yang gelap gulita. Awalnya jalan masih beraspal, walau banyak lubangnya. Beberapa kilometer kemudian jalannya mulai berbatu-batu sebesar kelapa tanpa aspal dan menanjak pula. Sejauh ini aku masih  sanggup mengikuti jeep itu. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba jeep itu mogok. Setelah beberapa lama, si supir tidak sanggup memperbaikinya, karena ada spare part yang harus diganti. Lalu dia menghubungi temannya memakai handy talky, agar dikirim spare part yang dibutuhkan. Daripada aku menunggu lama, dia pun mempersilakan agar kami jalan duluan.

Maka kami melanjutkan perjalanan tanpa diiringi jeep. Setelah beberapa kilometer kami menemui tanjakan yang berpasir itu. Aku mencoba melaluinya dengan dibantu teman-teman yang mendorong dari belakang. Bukannya membantu, teman-teman malah menjadi korban siraman pasir dari kolong mobil! Semua jadi mandi pasir, dan masing-masing tampak lucu dan menyeramkan. hahaha... Usaha pertama pun gagal. Lalu aku coba lagi sampai 3 kali tanpa bantuan teman-teman dan tidak berhasil juga.

Dalam keputus-asaan, aku berdoa pada yang Maha Kuasa. Tiba-tiba aku teringat, dulu di suatu saat aku pernah berhasil melewati jalan tanah yang basah dan licin. Teori ini boleh juga kucoba, pikirku. Maka dengan mengucap Bismillah, aku coba dengan mempermainkan gas dan stir. Dengan terseok-seok, sedikit demi sedikit, mobilpun dapat menanjak dan... berhasil melewatinya! Pemecahan record Guiness Book of Record! hahaha...

Teman-teman pun bersorak sorai gegap gempita. Kami melanjutkan perjalan yang terus menanjak dan sudah tidak ada lagi batu-batunya. Beberapa ratus meter kemudian ada lagi tanjakan berpasir. Dengan susah payah aku dapat melaluinya kembali, begitu pula di tanjakan berpasir berikutnya.

O ya, di tanjakan yang berpasir itu sebenarnya berbahaya sekali. Tapi kami tidak tahu, maka kami enjoy saja. Karena waktu itu gelap dan di sisi kiri-kanan jalan ditumbuhi alang alang yang tingginya 1 meter-an, jadi kami tidak tahu kalau di kanan jalan itu adalah jurang yang sangat dalam! Wow... Seandainya mobil saya terperosok ke jurang hari senin, mungkin hari jum'at baru tiba di dasar jurang! hahaha... Ini baru kami ketahui pada saat pulang melalaui jalur ini kembali. Menyeramkan!!!

Jam 5.30 pagi tanggal 16 Agustus 2002, kami pun sampai di desa Klakah, Ranu Pane. Di sana sudah kumpul kendaraan panitia "Jejak Petualang" dan sebagian kendaraan peserta acara itu. Sebagian supir yang mengetahui jalan dari kota Malang ini, apalagi supir-supir jeep yang dari Malang, terheran-heran melihat kedatangan mobil kami. Koq bisa ya mobil kaya gini melalaui jalan yang medannya berat, kata mereka begitu. Siapa dulu dong supirnya, kata teman-temanku. hahahaha... Mobilpun aku parkir berbaris di sisi jalan mengikuti mobil-mobil yang sudah parkir duluan.

Setelah mandi, makan, ngopi, dan beristirahat, sekitar jam 8 pagi kami mulai mengawali pendakian mengikuti rombongan "jejak petualang" yang dibintangi Riyani Djangkaru dan seorang lagi saya lupa namanya. O ya, di Ranu Pane kami tidak lapor lagi ke pos pendakian, karena dikira kami ini peserta jejak petualang. Disamping ngirit lah... hehehe..

Gunung Bromo
Awal memasuki track pendakian di Ranu Pane

Pendakian dimulai dengan berjalan kaki melalui jalan setapak, memasuki hutan yang masih alami. Track di sini belum terlalu terjal dan belum begitu berat. Setelah kurang lebih 3 jam berjalan, kami disuguhi pemandangan yang indah sekali. Di sisi kiri jalan tersebut ada jurang yang dalam, dan di seberang jurang itu tampak jelas puncak gunung Bromo  yang sesekali mengeluarkan asap vulkaniknya. Pemandangan yang indah sampai di Ranu Kumbolo. Setelah berjalan sekitar 5 jam dari titik nol, sampailah kami di Danau Ranu Kumbolo.
Upacara 17 Agustus 2005 di Ranu Kumbolo
Foto bersama setelah upacara 17 Agustus



Kamipun beristirahat dan memasang tenda di dekat danau ini. Setelah masak-masak dan makan siang aku pun tidur, karena badanku terasa lelah sekali disamping juga masih mengantuk. Malamnya kami nikmati dengan bersenda gurau sambil bernyanyi-nyanyi di sekitaran tenda. Beruntung malam hari di Ranu Kumbolo ini kami tidak mengalami hal seperti di Taman Surya Kencana Gunung Gede 3 tahun sebelumnya. Setelah puas dan lelah, kami pun tertidur. ngook... grrrgh... ngook.. grrghhh...

Esok harinya, tanggal 17 Agustus jam 10, kami mengikuti upacara memperingati HUT RI bersama panitia jejak petualang. Karena kami bukan peserta, maka kami berdiri di barisan paling belakang. Selesai upacara kami sempatkan berfoto bersama Riyani. Setelah itu kami kembali ke tenda, dan seperti biasa, ada yang bercanda, ada yang nyanyi, ada juga yang jalan-jalan. Kami berencana mengikuti team jejak petualang yang akan berangkat malam hari menuju puncak Gunung Semeru. 

Tapi na'as, siang itu bekal kami tinggal 10 bungkus "nasiku". Tinggal untuk 1 kali makan malam saja! Dan gas utk memasakpun tinggal 1 kaleng kecil, itupun sudah terpakai. Kalau ikut, bagaimana besok kami mau makan? Masa mau minta sama peserta lain? Kalau cuma ber-dua mungkin bisa dimaklumi, tapi kalau 8 orang, siapa yang mau ngasih? Belum lagi nanti perjalanan pulang yang tentunya lebih jauh lagi. Sayang sekali... Kenapa waktu itu kurang kontrol terhadap perbekalan. Kami percaya begitu saja pada teman yang mempersiapkan perbekalan, yang katanya cukup. Memang kali ini dia membawa mie & "nasiku" sebagai pengganti beras. Dan kami agak boros makan nasiku, karena kalau cuma makan 1 bungkus nasiku belum kenyang.

Cuma ada 2 alternatif saat itu. Keluar dulu ke perkampungan penduduk membeli beras dan lauk pauk lalu kembali lagi, atau pulang. Kalau alternatif pertama dipilih, begitu balik lagi tentu sudah sepi. Dan tentunya juga capai sekali. Belum lagi bagaimana dengan keamanan mobil yang diparkir sendirian. Akhirnya dengan sangat menyesal.. kami pun mengambil alternatif ke dua, pulang! Yah.. siang itu juga kami pulang... Sayang sekali...

Singkat cerita, sampailah kami di tempat parkir mobil, dan pulang. Kami pun pulang melalui jalan yang sama seperti waktu berangkat. Barulah kami tahu indahnya jalan yang kemarin malam kami lalui. 

Kami berada di daerah yang tinggi, sebelah kanan kami jurang yang dalam dan pemandangan yang indah nun jauh di sana. Kira-kira 1-2  kilometer kemudian kami menemui 3 kali turunan berpasir, dan di sebelah kiri ternyata jurang yang dalam.  Mengerikan sekali kalau mobil sampai terselip dan terperosok. Malam sebelumnya kami enjoy saja di sini sambil tertawa-tawa karena lucu melihat teman yang tersiram pasir.

Beberapa ratus meter kemudian, kami berada di jalan di mana sebelah kanan dan kiri kami jurang yang dalam! Darahpun berdesir, jantung berdegup kencang, tangan dan kakiku sempat gemetar. Panjang jalan ini sekitar 400 meter-an! Wow... Lalu di tengah jalan ini ada jembatan kayu yang tidak ada pengaman di sisi kiri dan kanannya! Busyeett dah... Benar benar mengerikan broo..! Sungguh pengalaman yang belum pernah kutemui di tempat lain.. Sepanjang perjalanan sungguh pemandangan yang sangat indah sekali dan juga menyeramkan. Kami berdecak kagum atas ciptaan Yang Maha Kuasa ini.

Lalu kami memasuki kawasan hutan dengan pepohonannya yang masih lebat sekali. Jalan pun hanya batu-batu besar tanpa aspal. Beberapa kilometer kemudian kami keluar dari hutan, dan menemui perkampungan suku tengger. Kami melalaui perkebunan sayur yang sangat subur milik orang-orang suku tengger. Setelah beberapa kilometer baru kami sampai di Tumpang. Hari pun sudah hampir gelap.

Setelah istirahat sejenak di Tumpang untuk makan sore, kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Dan esok sorenya barulah kami sampai di rumah masing-masing. Perjalanan yang melelahkan juga menyenangkan. Pengalaman yang tak terlupakan di tahun 2005.

Foto-foto akan di-update nanti.

0 komentar:

Post a Comment